Rabu, 21 November 2012

Lilin Lilin Kecil (all about my HOI)


Dalam gelap itu kita bicara. Berdua, ditemani sebatang lilin. Kau duduk dan meletakkan wadah lilinmu tepat di sampingku. Berdua kita duduk saat itu, berdampingan. Supermoon baru saja lewat, tetapi purnama masih saja bertahan. Kala itu awan awan yg kita bicarakan, mengapa mereka masih terlihat malam ini ? dan mengganggu pemandangan bulan kita. Hidung bangirmu terlihat jelas saat cahaya lilin memendar, aku tersenyum penuh kasih kala itu padamu. Kau balas senyumku dan menggengggam kedua tanganku dengan lembut, kau sisihkan helai demi helai rambutku ke belakang telinga. Kau kecuplah kemudian pelipis kananku dan berkata “aku mencintaimu”. Sungguh malam itu bulan pun tampak cemburu melihat tingkahnya merayuku. Bulan menghilang, awan awan hitam itu lagi yang menutupinya. Tapi kau tetap saja tersenyum, dan masih menggenggam erat tanganku. Kudekatkan bibirku padamu dan bisikkan “aku akan selalu mengingat malam ini dan berharap akan selalu ada lilin lilin baru di setiap malam malam di atas sini”. Kau menyeringai dan hampir terdengar tertawa kecil sambil mengecup bibirku dengan lembut. Sungguh, bintang kali ini yang iri pada tingkahnya, malam pun semakin gulita. Jalan jalan mulai lengang. lampu lampu jalan mulai dipukul dua belas kali oleh penjaga malam, kita yang telah duduk diujung lantai empatmu sambil menjuntaikan kaki kebawah itulah yang dilihat olehnya. Mungkin saja penjaga malam itu mengira kita maling atau mungkin hantu yang sedang menyatroni ruko studio tempatmu bekerja kala itu. Lagi lagi kau tertawa kecil sambil melihat kearahku. Aku tersipu malu, sambil memukul lembut pundakmu. “jika kau duduk di tempatku sekarang, mungkin kau akan melihat betapa bagusnya jika kuambil sebuah potret dari wajahmu di antara lampu lampu jalan itu sayang”, katamu dengan sungguh. “benarkah ? bisakah kau duduk disampingku, mungkin saja wajah kita berdua akan terlihat bagus bila terkena cahaya cahaya itu, biarkan tripod si penyangga kameramu yg memotret kita, biarkan cahaya jalan memblur dan kita akan mengenang malam ini berdua”, sahutku dengan penuh canda. Kau dengan senyum manismu kembali menyahut “aaaaaah, malam ini aku ingin melihat wajahmu saja dulu, masih banyak malam malam lain untuk kita disini bersama”. “amin”, jawabku singkat. Aku mulai berharap ini yang terakhir. Terakhir untuk aku mencintai seseorang, terakhir untuk menjanjikan bahwa aku akan baik baik saja, terakhir untuk menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu selamanya.

bersambung...


21 November 2012, saat malam mendekati purnama 

Selasa, 13 November 2012

I Don't Have Any Idea 3

Aku sedang kehilangan hujan
Aku sedang kehilangan bulan
Aku sedang kehilangan awan
Aku sedang kehilangan,
Seluruh semesta..
Melukis cahaya, menggapai bintang
Menunggu pagi, melihat langit
Aku sedang kehilangan,
 Semua hasrat..
Cinta, nyanyian dan tulisan
Kata kata indah serta beberapa hela nafas
Aku sedang kehilangan,
Kamu…
Kembalilah…

12 November 2012 – 04.00 PM

Minggu, 11 November 2012

I Don't Have Any Idea 2


Gila kali ya gue sekarang, bisa ngimpiin lo balik ke gue yang sebenernya gak mungkin. Mungkin juga gila gue ini kelewat parah sampai tiap hari gue mesti mimpiin lo dan berakhir galau pas bangun pagi paginya. Gue jadi sering nyumpah nyumpahin nama lo dan ujung ujungnya malah nangis pas inget isi mimpi gue. Selalu dan selalu ngimpi kalau lo dateng dan cuman bilang kalau lo sayang sama gue. Andai gue hidup di mimpi, gue biarin dah gak usah bangun bangun lagi asal gue tetep bisa nikmatin pelukan hangat lo dalam mimpi gue. Lo masih belum berubah, rambut lo, gigi lo, dan bibir lo yg punya bekas goresan itu emang gak akan pernah bisa ilang dari ingatan gue. Plisss balik ke gue,

11 november 2012 2.30 AM

I Don't Have Any Idea



Sebuah sentuhan yang menggiring pada taman surga, lika liku jemari yang sedang menyusuri tubuh, mereka yang sedang dicumbu itu saling tukar desah, diikuti bunyi bunyian malam syahdu dibawah sabit.
Nasib lah yang sedang membawamu, sayang.. sekarang dan seterusnya. Sekarang dan sampai nanti, ketika itu dan ketika nanti, sampai detik ini dan sampai kapanpun..
Tetaplah mencintaiku, tetaplah menjadi apa yang aku cintai
Bukan tentang bertukar kisah kita tiap tiap malam syahdu itu,
Bukan tentang awan awan yang sering kita bicarakan
Atau tentang hujan manis dikala akhir musim semi kala itu
Seandainya kau masih disini,
Bersamaku, sekali lagi..
Maafkan aku..
Kembalilah…