Dalam
gelap itu kita bicara. Berdua, ditemani sebatang lilin. Kau duduk dan
meletakkan wadah lilinmu tepat di sampingku. Berdua kita duduk saat itu,
berdampingan. Supermoon baru saja lewat, tetapi purnama masih saja bertahan.
Kala itu awan awan yg kita bicarakan, mengapa mereka masih terlihat malam ini ?
dan mengganggu pemandangan bulan kita. Hidung bangirmu terlihat jelas saat
cahaya lilin memendar, aku tersenyum penuh kasih kala itu padamu. Kau balas
senyumku dan menggengggam kedua tanganku dengan lembut, kau sisihkan helai demi
helai rambutku ke belakang telinga. Kau kecuplah kemudian pelipis kananku dan
berkata “aku mencintaimu”. Sungguh malam itu bulan pun tampak cemburu melihat
tingkahnya merayuku. Bulan menghilang, awan awan hitam itu lagi yang menutupinya.
Tapi kau tetap saja tersenyum, dan masih menggenggam erat tanganku. Kudekatkan
bibirku padamu dan bisikkan “aku akan selalu mengingat malam ini dan berharap
akan selalu ada lilin lilin baru di setiap malam malam di atas sini”. Kau
menyeringai dan hampir terdengar tertawa kecil sambil mengecup bibirku dengan
lembut. Sungguh, bintang kali ini yang iri pada tingkahnya, malam pun semakin
gulita. Jalan jalan mulai lengang. lampu lampu jalan mulai dipukul dua belas
kali oleh penjaga malam, kita yang telah duduk diujung lantai empatmu sambil
menjuntaikan kaki kebawah itulah yang dilihat olehnya. Mungkin saja penjaga
malam itu mengira kita maling atau mungkin hantu yang sedang menyatroni ruko
studio tempatmu bekerja kala itu. Lagi lagi kau tertawa kecil sambil melihat
kearahku. Aku tersipu malu, sambil memukul lembut pundakmu. “jika kau duduk di
tempatku sekarang, mungkin kau akan melihat betapa bagusnya jika kuambil sebuah
potret dari wajahmu di antara lampu lampu jalan itu sayang”, katamu dengan
sungguh. “benarkah ? bisakah kau duduk disampingku, mungkin saja wajah kita
berdua akan terlihat bagus bila terkena cahaya cahaya itu, biarkan tripod si
penyangga kameramu yg memotret kita, biarkan cahaya jalan memblur dan kita akan
mengenang malam ini berdua”, sahutku dengan penuh canda. Kau dengan senyum
manismu kembali menyahut “aaaaaah, malam ini aku ingin melihat wajahmu saja
dulu, masih banyak malam malam lain untuk kita disini bersama”. “amin”, jawabku
singkat. Aku mulai berharap ini yang terakhir. Terakhir untuk aku mencintai
seseorang, terakhir untuk menjanjikan bahwa aku akan baik baik saja, terakhir
untuk menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu selamanya.
bersambung...
21 November 2012, saat malam mendekati purnama