Sebuah sentuhan yang menggiring pada taman surga, lika liku
jemari yang sedang menyusuri tubuh, mereka yang sedang dicumbu itu saling tukar
desah, diikuti bunyi bunyian malam syahdu dibawah sabit.
Nasib lah yang sedang membawamu, sayang.. sekarang dan seterusnya.
Sekarang dan sampai nanti, ketika itu dan ketika nanti, sampai detik ini dan
sampai kapanpun..
Tetaplah mencintaiku, tetaplah menjadi apa yang aku cintai
Bukan tentang bertukar kisah kita tiap tiap malam syahdu
itu,
Bukan tentang awan awan yang sering kita bicarakan
Atau tentang hujan manis dikala akhir musim semi kala itu
Seandainya kau masih disini,
Bersamaku, sekali lagi..
Maafkan aku..
Kembalilah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar